prahara
kupuja engkau wahai cahya abadi, bukan
karna aku takut siksa atasku,
namun, aku tak ingin ada cahaya lain
yang membutakan ku
engkau tempat seluruh rinduku berlabuh
menghantarkan bait-bait syahadat
pada puncak maghfirah mu
kerlip lilin dalam gua kesadaranku senantiasa menyala
bersama tetes air mata dzikir yang tak henti,
dari bening bola mata para bidadari
patah-patah lidah ku mengucapkan asma-mu,
meraih damai yang memancar
dari sembilanpuluh sembilan nama,
tak ada kematian selain kematian
dengan memegang teguh panji-panjimu
rohku, masih
menyebut asmamu,
ketika jasad tak lagi mampu menggerakan
rakaat-rakaat panjang keikhlasan
asty's ^ ^