Sabtu, 13 Oktober 2012


prahara

kupuja engkau wahai cahya abadi, bukan

karna aku takut siksa atasku,

namun, aku tak ingin ada cahaya lain

yang membutakan ku

engkau tempat seluruh rinduku berlabuh

menghantarkan bait-bait syahadat

pada puncak maghfirah mu

kerlip lilin dalam gua kesadaranku senantiasa menyala

bersama tetes air mata dzikir yang tak henti,

dari bening bola mata para bidadari

patah-patah lidah ku mengucapkan asma-mu,

meraih damai yang memancar

dari sembilanpuluh sembilan nama,

tak ada kematian selain kematian

dengan memegang teguh panji-panjimu

 rohku, masih menyebut asmamu,

ketika jasad tak lagi mampu menggerakan

rakaat-rakaat panjang keikhlasan 


asty's ^ ^

Inikah kiamat ???

Pagi itu aku hanya terdiam membisu
Tak satupun kata keluar dari mulut ku
Lidahku seakan kaku dan membeku
Kosong…..
Hampa…..
Inikah kiamat dalam hidupku???
Semua memanjatkan asma ilahi!!!
Semua menyeruakan isak yang teramat berat
Duka…..
Lara…..
Inikah kiamat dalam hidupku???
Wajah yang begitu sayu, damai dan penuh keikhlasan
Dihiasi senyum yang teramat menawan dari bibir yang pucat pasi
Menyimpan rasa sakit yang teramat perih dalam diri
Tapi tak henti-hentinya mengucap asma ilahi
Gemetar…..
Menggigil…..
Inikah kiamat dalam hidupku???
Jam dinding berdenting 12 kali
Dan ini seribu gunung berada dalam pundakku
Seribu samudra menenggelamkan ku dalam lara
Benar!! Hari ini adalah kiamat dalam hidupku
Innalillahi wainna ilaihirroji’uun
Kalimat itu terdengar sepintas olehku
Ibuuu…….
Pandanganku gelap
Suara tangis yang mengguncah seketika sirna
Berganti kesunyian yang sangat hampa
Inilah kiamat dalam hidupku…!!!


asty's  ^ ^

Sang tamu agung


asty's

Terdengar Gemericik dedaunan saling beradu dengan ranting
Rumahku bak telaga bening nan tenang…
sunyi..
sepi…

penampilanku yang lusuh
jiwaragaku yang kotor
dan pakaian ku yang kusut
sudah lama tidak aku perhatikan

hingga suatu ketika, tamu agung datang
ia mengetuk pintu rumahku, tok… tok.. tok…
aku melihatnya datang dengan segudang berkah dan maghfirah

aku pun mulai bersiap
ku basuh jiwa ragaku dengan lantunan al-qur’an
agar tampak sedikit lebih cerah
juga tak lupa menyetrika pakaian iman dan taqwa
agar terlihat lebih rapih

aku pun berjalan mendekati pintu dengan rasa berdebar
senang rasanya tamu agung berkenan datang
ku buka kan pintu, kusambut sang tamu agung

ruang tamuku yang tadinya suram,
mendadak terang penuh barokah
ruang tengahku yang tadinya hampa,
kini terisi penuh maghfirah
dan kamar-kamar yang tadinya kosong,
di huni sekumpulan rahmat

namun sayang, itu tidak berlangsung lama
tamu agung hendak berpamitan, tidak dapat kucegah
sedih rasanya ia tinggalkan,
meski ada sangpengganti
yaitu FITRI…